Rabu, 23 Juli 2008

Puisi Ku

RENUNGANKU

Kemarin,
Aku menatap seberkas warna
Menyapa dengan lembut dihati
Mengundang keras degup jantungku
Menyalimuti kebahagiaan dari kecemasan
Hari ini,
Semua minpi akan datang dengan indah
Menghasilkan lembaran memori hijau
Yang tetap teringat walauterjaga
Besok,
Aku akan mulai perjalanan panjang
Melewati lembah dan gunung
Menepis kabut iri dan kecil hati
Optimis adalah kuncu keberhasilan
Begitulah pesan orang pertama
Selamanya,
Setiap hembusan dalam nafasku
Setiap tatap dalam pandanganku
Setiap jengkal dalam langkahku
Kurelakan satu kenangan ini
Mengiringi roda kehidupanku

HUJAN

Ketika ramai seorang diri
Hentakan dikejauhan terasa jua
Percikan segala api listrik dimuka
Kunjung dari langit ke bumi
Tebaran rintik air mengguyur
Suara gaduh tak henti-hentinya
Berbisik menghampiri jiwa
Sepintas bayangan hancur
Dalam gelap disertai petir dan badai
Air-air yang datang bersama gelisah
Terabaikan sanubari di terjang
Sungguh terasa bimbang jiwa ini
Sekali-kali berbondong-bondong
Curahan air berkecamuk ke semua arah
Tak kunjung pula seperti reda
Hempasan angin terus condong
Seketika terang datang disaat sepi
Merayu tuk keluar bersama hujan
Terdengar hinggapan air menenangkan diri
Layaknya seorang berdiri berwibawa
Separuh kegelisahan sirna di tepi jalan
Terbawa sesaat sampai hilangnya rintik air
Namun alam tak peduli
Terus membawa topan air hingga sampai

TSUNAMI


Guncangan bumi, tanah pun retak
Gulungan ombak datang menyerang
Menerjang alam dan isinya
Ribuan nyawa terhempas melayang
Ribuan rumah pun roboh
Pepohonan banyak yang tumbang
Harta benda hanyut menghilang
Porak-poranda, itulah keadaanya
Jerit dan tangisan, itulah suaranya
Keributan, itulah suasananya
Ribuan nyawa terhempas melayang
Ribuan mayat pun berserakan
Menutupi tanah ini
Sedih dan pilu hatiku rasanya
Melihat bencana ini
Namun dibalik semua itu
Pasti ada makna illahi

SOBAT

Sobat,
Ingatkah kau dihalaman depan ini
Saat kau berlari dan mengejarku
Kau mendekap tubuh lunglai ini
Linangan air mata membasahi pipimu
Sobat,
Wajahmu yang merah menahan marah
Rasa isak dan segumpal tangan kananmu
Tubuh letih dan lelahmu
Hilang saat kau berkata padaku
Sobat,
Aku tersenyum padamu
Aku mengerti perasaan dihatimu
Dan ingatlah slalu
Ada satu kalimat pesan untukmu
Pesimis tak bernilai hikmah tinggi

Tidak ada komentar: